KABARTANAHBUMBU.COM, KOTABARU – Belakangan ini, sebaran produk beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) di Kabupaten Kotabaru mulai kurang terlihat di pasaran, yang memunculkan pertanyaan di kalangan warga, terutama mereka yang biasa mengandalkan beras kemasan 5 kg ini untuk konsumsi keluarga.
Seperti yang dialami Yana, seorang warga Desa Gedambaan, yang mengungkapkan bahwa sudah lebih dari seminggu ia tidak menemukan beras SPHP di warung-warung sekitar rumahnya.
“Sudah seminggu lebih tidak dapat mau beli, mungkin lagi kosong,” kata Yana pada Selasa (18/2/2025). Karena itu, ia terpaksa membeli beras kemasan lain dengan harga yang lebih tinggi, sekitar Rp 10.000 lebih mahal dari harga SPHP.
Beras SPHP yang memiliki harga terjangkau, yakni Rp 60.000 hingga Rp 70.000 per 5 kg, menjadi pilihan utama masyarakat dengan ekonomi menengah ke bawah.
Menanggapi hal ini, Kepala Bulog Kabupaten Kotabaru, Aditya Dwi Hanggara, menjelaskan bahwa sejak 7 Februari lalu, distribusi beras SPHP memang dihentikan sementara. Langkah ini dilakukan sesuai dengan instruksi dari Badan Pangan Nasional hingga ada penugasan lebih lanjut.
Meskipun distribusi beras SPHP dihentikan sementara, Aditya menegaskan bahwa pihaknya tetap berupaya menjaga stabilitas harga pangan di Kotabaru dengan menyerap hasil panen petani lokal.
Di Kabupaten Tanah Bumbu dan beberapa titik di Bumi Saijaan, Bulog membeli gabah kering dengan harga Rp 6.500 per kg guna mendukung kesejahteraan petani dan menjaga keseimbangan harga di pasaran.
Menjelang Bulan Suci Ramadan, Bulog Kotabaru memastikan bahwa stok beras aman hingga dua atau tiga bulan ke depan, dengan jumlah mencapai 1.200 ton saat ini. Selain itu, pihaknya juga mendatangkan beras komersil dari Sulawesi dan Jawa sebanyak 60 ton untuk memenuhi kebutuhan umum dengan harga premium.
Aditya pun mengimbau masyarakat agar tidak perlu khawatir meskipun permintaan beras biasanya meningkat menjelang Ramadan.
